Suatu pagi seorang murid datang kepada guru spiritualnya. “Guru, ijinkan saya bunuh diri. Saya sudah tidak kuat lagi menahan derita hidup. Saya berpikir tidak ada gunanya lagi bertahan hidup jika orang-orang yang paling dekat sekalipun selalu mencemooh dan menyalahkan setiap langkah saya. Sepertinya tidak ada lagi kebenaran yang tersisa dalam diri saya.”
Mendengar curhat murid yang tidak biasanya ini, sang guru agak terperanjat juga. Ia tidak menduga jika muridnya sudah sampai pada pikiran dan sikap putus asa. Setelah terdiam sejenak, sang guru minta ijin masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, sang guru kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas air putih dan semangkok garam plus sendoknya. “Wahai muridku, tolong kau ambil sesendok garam ini lalu kau masukkan kedalam gelas, dan aduklah agar segera larut. Setelah itu minumlah,” kata sang guru mengagetkan muridnya. Sang murid pun segera mengikuti perintah tersebut. “Seperti apa rasanya nak ?,” tanya guru lebih lanjut. “Waduh, pahit sekali guru,” jawab sang murid sambil menyemprotkan air ke arah gelas yang dipegangnya.
Mendengar jawaban itu, sang guru tersenyum dalam hati. “Sekarang, ikutilah saya,” pinta sang guru kepada muridnya sambil berjalan menuju telaga tak jauh dari rumahnya. Muridnya kembali diminta mengambil sesendok garam yang ia bawa untuk dimasukkan ke dalam telaga, sembari diminta untuk mengaduknya dengan bambu yang tergeletak di tepiannya. Beberapa saat setelah air kembali tenang, sang murid iminta mengambil air dengan gelas yang sama untuk diminum.
“Seperti apa rasanya nak ?,” guru bertanya untuk kedua kalinya. “Alhamdulillah segar sekali,” ujar sang murid sumringah. “Nak, apa yang membuatnya berbeda ? Padahal airnya sama-sama kamu beri sesendok garam,” tanya guru kemudian. “Yang membuat rasanya berbeda adalah wadahnya, guru. Kalau yang di rumah wadahnya gelas, sedang yang di sini wadahnya telaga,” ujar sang murid mantap. “Tahukah kamu akan arti semua ini ?” tanya guru berikutnya yang dijawab muridnya dengan gelengan kepala.
“Ketahuilah muridku. Garam ibarat persoalan hidup, sedang gelas dan telaga adalah gambaran hati kita. Jika hati kita hanya seluas gelas, maka persoalan hidup yang kecil sekali pun akan terasa begitu pahit. Sebaliknya, jika hati kita bisa seluas telaga, maka berbagai persoalan hidup yang besar dan pelik pun akan terasa ringan. Hati dan perasaan kita senantiasa segar. Hidup pun akan terasa indah”, papar guru berfalsafah.
“Lalu bagaimana caranya melapangkan hati kita”, sela sang murid. “Berusahalah untuk selalu menjadi pemaaf, baik bagi kesalahan diri sendiri maupun kesalahan orang lain. Ingat Allah pun Maha Pemberi Ampun.” Sang murid tercenung dengan mata berkaca-kaca. Sambil beristighfar, ia berikrar di hadapan guru untuk tidak lagiberpikir bunuh diri.
oleh H.D. Iriyanto, dikutip dari harian Republika.
09.00 Pagi hari Saat usai menyelesaikan pengajaran pertama di kelas Aku berjalan menuju kantor tuk rehat sejenak sebelum melanjutkan tugas mengajarku. Sambil menyeruput teh, aku menengok ke jendela Lalu kulihat mentari tersenyum…kuanggap begitu karena sinarnya begitu hangat menerpaku, aku lalu terdiam beku… Tanpa sadar nalarku berkelana pada sosoknya,Ia juga hangat seperti sinar mentari itu, lalu kukeluarkan hp dan mengirimkannya sebuah sms
“salam kanda….apa kabar? Pagi ini kuliat mentari bersinar penuh hangat, lalu akupun teringat padamu…hangat dan bersahaja, semoga harimu indah…”
Jam berdetak, detik, menit pun terlewati, ah mungkin dia sedang sibuk..mana sempat dia membalasnya….lalu hp ku berdering, ada sms… “hangatnya mentari pagi hangatnya jiwaku: dinda….kubuka pagimu dengan hamdalah…”
Bibirku melengkung tanpa sadar, aku tersenyum….dia membalasnya dan begitu indah, degup jantungku kian kencang, mengalahkan riuh anak kecil yg bermain di dekatku…lalu kubalas lagi
“tiba-tiba kurasa mentari menyatu dalam diriku, hingga ku bersinar merona….karena sapamu”
Sms terbalas lagi…
“kanda terkenang ungkapan kaum Arif dalam tradisi keruhanian Islam: Man yadzuq lam ya’rif..kanda tau mempercakapkannya karena kanda telah tenggelam secara ontologis dalam alam..”alam rasa”….jiwaku tiba-tiba jingga…”
Hahahahaha….aku terbahak, kau betul-betul puitis tak salah yang aku dengar dari orang-orang tentang kekuatan kata-katamu, aku pun membalasnya
“jangan-jangan senja telah mendahului waktu dan mengendap dalam labirin jiwamu….”
Tak lama kau pun kembali berkata-kata “bagiku: waktu telah melarut dalam diriku. Senja dan pagi berada dalam satu titik. Sebab itu, titik pulang kita, tidak jauh dari pintu dimana kita berangkat dinda….”
Aku semakin terbuai dan tak ingin berhenti, sesekali aku melirik jam…rasanya ingin waktu berhenti agar tak mengganggu kita…aku menjawabmu
“kanda ukirkan aku kata-kata indah nan romantis dalam alunan irama puisimu, tidakkah aku cukup pantas menjadi inspirasimu??...”
Narsisku mulai kumat…hahaha, biarkan saja, aku sangat mencintai kata indah, apalagi ditulis olehmu..sosok yang hangat dan bijaksana….lalu sms kembali datang….
“Insyaallah dinda, sebab dinda adalah puisi kehidupan dalam jiwaku…”
Senyumku semakin seringai……kau memang indah….baik akhlak maupun katamu, sungguh aku bgt mengagumimu, kau bukan hanya sekedar kakak bagiku, juga guruku, terima kasih Kanda, smg Allah melimpahkan kebahagiaan padamu…aku lalu beranjak dari kursi dan kembali mengajar….hatiku riang!
Saat ini di Makassar musim durian telah menyapa, meski harga masih relatif mahal tapi disepanjang jalan baik jalan-jalan protokol ataupun jalan-jalan biasa telah dipenuhi oleh para warga yang sedang asyik menikmati durian, sebagian warga bahkan berubah profesi menjadi penjual durian, warung-warung makan kini banyak disulap menjadi tenda-tenda sederhana yang dipenuhi tumpukan buah berduri nan manis, waktu pun tak jadi masalah, dari pagi-pagi sekali hingga malam telah larut para penjual dan pembeli selalu saja terlihat di sepanjang jalan, yah…..musim durian memang selalu jadi momen yang istimewa bagi sebagian besar warga masyarakat kota Makassar, termasuk aku dan keluargaku khususnya almarhum ayahku.
Musim durian selalu mengingatkanku pada ayahku. Ayahku penggemar durian, sejak dulu, itulah mengapa seluruh anaknya sangat menyukai durian, mungkin karena dari kecil hingga dewasa ayah selalu membiasakan kami menikmati nikmatnya rasa buah durian. Aku masih ingat seringkali setiap sore setelah pulang kantor ayah membawakan kami buah durian, kalau dia sudah sampai di depan pintu, wajahnya berseri-seri dan dengan semangat dia akan berteriak memanggil kami anak-anaknya..”nanna…anci…mala…wati…turun nak, bantu tetta angkat barang dari mobil, kami pun turun lalu terlihat ayah berdiri di samping pintu belakang mobil, saat melihat isi mobil, mata kami pun terbelalak gembira, karena bagian belakang mobil sudah penuh dengan buah durian, kami pun bersorak, dan ayah tertawa terbahak-bahak melihat kegembiraan kami, dengan semangat kami mengangkatnya dan mulai memakannya dengan penuh semangat. Saat menikmati durian itu, tatapan ayah tak pernah lepas dari wajah kami, tersenyum penuh kasih sayang. Kadang-kadang meski rasa durian itu agak hambar atau pahit, aku tetap pura-pura semangat memakannya, aku hanya tak ingin membuat tatapan bahagia itu menjadi kecewa karena durian yang tak enak.
Hal itu selalu saja ayah lakukan, bahkan pada saat dia mulai sakit-sakitan, kolestrol tinggi, gula dan kaki yang rematik dan mulai terseok-seok, Ia tetap pergi membelikan kami durian, selalu dengan jumlah yang tak sedikit, Ia memang tak ikut menemani kami makan seperti sebelumnya, dia akan makan satu atau dua biji setelah itu berhenti, karena mata kakakku yang perawat tak berhenti melotot padanya, takut ayah tambah parah penyakitnya. Suatu ketika penyakit ayah mulai parah, berganti-ganti rumah sakit dan di vonis menderita tumor di paru-parunya, musim durian mulai terlewati dengan begitu saja, tak ada lagi ayah yang setiap pulang kerja memanggil kami makan durian, Ia hanya terbaring tak berdaya dan mulai tak bisa berjalan lagi, saat itu kondisinya agak membaik, dan dia ingin sekali makan durian, kami juga bingung harus bagaimana, dokter tentu tak membolehkannya pihak rumah sakit juga keberatan karena bau durian sangat menyengat. Seorang kakakku (kak anci) lalu berinsiatif, membelikannya durian dengan cara isi duriannya dikeluarkan dan dibungkus dalam kantong plastik lalu dibawa ke rumah sakit, ayahku terlihat begitu senang seperti anak kecil yang dapat mainan baru, dia pun memakannya dengan nikmat, meski tak banyak (karena kami batasi juga), itulah saat terakhir kami menikmati makan durian bersama-sama, karena beberapa bulan setelahnya ayah meninggalkan kami.
Ah ayah…saat ini musim durian, kami semua sudah punya uang untuk membelinya tak perlu dibelikan lagi olehmu..tapi tetap saja tak sama, karena tak ada lagi tatapan wajahmu yang penuh kasih sayang melihat kami menyantap buah durian. Terima kasih ayah atas cinta yang berlebih, meski kadang kau sampaikan lewat manisnya buah durian….merindukanmu, sangat!
Dilahirkan sebagai putri bungsu dari 8 bersaudara, tumbuh dgn suasana kekeluargaan yang kental dgn kebersamaan membuatku sangat senang berbaur dan menjalin keakraban dengan siapapun, inginku menggebu, hasratku melangit pada sesuatu yg kuanggap unik,misteri dan nyata.Merangkai kata dlm bentuk puitis bukan kelebihanku,menyusun kata dalam ranah ilmiah juga bukan kehebatanku,tapi menjelajahi sesuatu yang baru dan berusaha menaklukkannya adalah bagian dari jiwaku, karena itu mari kita saling berbagi kisah agar tercipta lembar demi lembar antara kisahku dan kisahmu pada wujud ungkapan rasa yang tersusun dalam uraian "Lembar Kisah"